Langsung ke konten utama

#SebulanCurcol #Day6: Hay, Penyampai Rindu

Hay, kamu.
Sudah sampai mana pendakianmu hari ini?
Apa mimpimu semakin dekat?
Apakah semangatmu masih pekat?
Atau yang paling sering kau tanyakan padaku dulu, bagaimana harimu?

Ah, aku terlalu banyak bertanya.
Tapi aku tak ingin menanyakan rindu, karna aku sungguh tak perlu menanyakannya. Kaulah yang pasti menyampaikannya.

Hay kamu, pemilik tawa penyemangatku.
Untuk kamu, seorang yang menerima saja maunya pemimpi yang terlalu keras terhadap dirinya ini.
Terima kasih pernah datang dan mengetuk dengan keras.

Hay kamu.
Terima kasih untuk rasanya dimengerti dan dipercaya.
Terima kasih untuk banyak deringan yang kau angkat dengan suka cita.
Dan terima kasih untuk pernah memutuskan melepaskanku tanpa sedikitpun amarah.

Tak banyak memang waktu yang kita bagi berlabel kita, tapi aku, kamu sama-sama tau waktu itulah hal yang aku dan kamu pernah sama-sama syukuri adanya.
Aku tak pernah mau mengulang waktu. 
Tapi kalaupun aku diberi kesempatan itu, aku akan mengulang lima bulan itu. Saat aku dan kamu adalah kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Sendiri

 Berada di sini hari ini, dalam ruang tertutup yang hanya ada aku sendiri. Hidup ini lucu ya, 28 tahun aku merasa tidak punya privasi, selama ini yang pernah aku tau rasanya hanya sendiri di tengah hiruk pikuk, akhirnya aku merasakan sendirian di satu ruangan yang hanya milikku. 2 tahun lalu, aku harus bergegas pulang untuk bisa sendirian, benar-benar sendiri. Hari ini aku akhirnya dapat mencicipi rasanya, sendirian, berjam-jam, berhari-hari.

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...