Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tentang Hidup

Menjadi Manusia yang Jujur dan Baik

Banyak hal yang akhirnya membentuk seorang Ismi Minarsy hari ini, banyak pelajaran hidup, jurang besar di depan mata, sabetan cambuk, rasanya hampir menyerah dan juga tentunya kebahagian yang seringkali dirayakan. Setiap ditanya, "mau dikenal seperti apa kamu Mi?" Jawaban yang selalu terlintas hanya "jadi manusia yang baik dan jujur". Sesederhana itu memang harapan saya. Ini satu hal yang selalu saya pegang teguh. Saya bukan orang yang punya kuasa juga harta berlimpah yang dengan gampangnya bisa meluruskan jalan siapapun, tapi satu hal yang selalu menjadi keyakinan, kejujuran dan perbuatan baik tak pernah berkhianat. Sejahat apapun dunia, saya selalu yakin suatu saat kebaikanlah yang akhirnya akan membukakan jalan disaat nanti saya menemui kebuntuan. Saya mengadopsi prinsip ini dari ayah dan ibu. Mereka adalah contoh nyata kebaikan yang setiap hari saya lihat dan perhatikan. Ayah sungguh bukan seorang yang bisa membukakan banyak pintu kesempatan bagi saya, ...

"Penggaris" Dan "Tangga" Sendiri

Dua tahun lalu adekku pernah datang kepadaku mengeluh karna salah satu teman sekelasnya ditawari ke luar negeri untuk sekolah lagi oleh seseorang yang mengenalnya baik dan berkuasa, padahal kalau mau diurutkan dengan rangking, adekku jauh di atas temannya yang beruntung ini. Dia menangis karena merasa dunia ini tidak adil.  Saat itu aku beritahu dia soal posisi keluarga kami “Ayah sama Ibu itu nggak punya lift buat kita naik, kamu tau kan? Mungkin orang lain bisa seenaknya aja naik tanpa susah payah karna ya memang orang tua mereka ngebangunin lift buat dia, tapi kan kita nggak. Kalau kita mau ada di puncak ya kita harus bangun tangga kita sendiri” .  Begitulah keluarga kami, orang tua kami bukan orang kaya raya yang punya kasta dan kuasa. Sesungguhnya kalimat itu yang selalu aku tanam untuk diriku sendiri saat aku sedang merasa iri dan kurang beruntung melihat seseorang yang hidupnya terlihat kelewat mudah karna orang tuanya punya kuasa sedangkan aku harus bersusah pay...

Aku: Perempuan Pecinta Kesendirian Dan Kehidupan

Sebenarnya, ini adalah tulisan lama yang aku tulis Agustus 2015 lalu, sempat terposting, tapi entah mengapa kusembunyikan kemudian. Pagi ini aku kembali membuka draff postinganku dan membaca lagi tulisan ini. Dan kemudian aku tergerak membagikannya lagi. Selamat mengenal "Ismi Minarsy" :) Hay, perkenalkan aku perempuan aquarius 24 tahun bergolongan darah B. Perindu setia pantai, maka saat aku lebih rindu seseorang dibanding pantai, dia istimewa dihidupku. Tetapi bukan berarti akhirnya aku kan setia selamanya. Terkadang aku juga perindu sunset, sunrise dan keheningan. Karna mereka juga seindah pantai, jangan tanyakan saat aku bisa bertemu senja di pantai, dihari itu aku bisa jamin bahwa aku adalah manusia terbahagia.  Walaupun aku buta nada, aku salah satu yang tak dapat hidup tanpa music, tapi aku benci berisik, aku benci riuhnya orang berbicara, oleh karena itu aku sangat membutuhkan music. Saat banyak orang riuh berceloteh aku yang akan menyumbat telinga dengan nada. ...

Sam: "Petasan" Yang Berhenti Meledak

Beberapa hari lalu aku mendapat permintaan “Mi, bikinin tulisan dong, ceritakan perubahan pribadiku dari awal kamu kenal aku sampai sekarang. Menurut pengalamanmu aja, tulisan asal aja”. Ya, aku ini pribadi yang sungguh random- nya nggak ada obat, tapi sebenarnya yang random bukan Cuma aku lho, teman-teman di lingkaranku juga. Terbukti dengan pernyataan di atas kan? Alasan itulah mungkin ya yang membuat kami berkawan baik, jadi tak apa lah. Jadi mari aku perkenalkan dengan salah satu kawanku ini. Namanya Sam, aku tak kenal siapa nama lengkapnya, kapan ulang tahunnya, dan aku tak peduli apa agamanya. Iya, aku memang salah satu dari beberapa gelintir orang yang berteman dengan seseorang tanpa peduli latar belakangnya, aku rasa Sam juga salah satu dari segelintir orang tersebut.   2012 akhir, itu awal pertemuanku dan Sam. Aku mengenal Sam secara kebetulan. Kebetulan kami bergerak di-isu yang sama saat itu, maka dengan kebetulan pula kami diundang dalam satu pelatihan y...

#SebulanCurcol #Day29: Leader

2014. Aku masih menjadi koordinator program di salah satu organisasi remaja. Hari itu adalah hari kami melaunching satu program berskala Internasional di Jawa Timur. dance4life. Program pertama yang aku awali perjalanannya di sini, dan untuk pertama kalinya aku berkesempatan menjadi Project Manager. Kegiatan launching ini adalah kegiatan pertama yang aku lead dari awal sampai selesai. Pertama kali pula aku menjadi penanggung jawab tertinggi. Tanpa seniorku sebagai bayang-bayang dan juga Direktur yang melepas saja kami tanpa peduli. Kegiatan ini sebetulnya kerja sama antara Dinas Kesehatan dangan organisasiku, dan aku ingat betul organisasi kami baru bergabung 3 minggu sebelum hari H, sedangkan acaranya akan diadakan di salah satu mall besar di Surabaya yang pastinya tidak mentolerir adanya kesalahan. Aku ingat betul hari-hariku yang penuh dengan rapat persiapan, badan terduduk di depan laptop merevisi banyak hal, telfon yang selalu berdering, dan koordinasi yang tak henti. Aku sung...

#SebulanCurcol #Day28: Tentang Mereka

Sejujurnya postingan ini adalah postingan terakhir yang aku tulis dari beberapa hutang postingan yang harus aku bayar. Ternyata tema ini adalah tema terberat untuk ditulis. Tema yang aku tak tau harus bagaimana menulisnya dengan positif. Sebenarnya aku bukan family person. Tidak pernah mengutamakan keluarga, dan bukan juga orang yang menaruh keluarga sebagai gantungan saat aku tak kuat berpijak. Aku terlahir sebagai sulung dari dua bersaudara. Adekku perempuan, hanya berselisih 3 tahun dari umurku. Aku dibesarkan oleh ibu yang keras dan ayah yang penyabar. Sejak kecil aku terbiasa untuk menahan keinginan. Karna tak semua yang aku butuh dan inginkan selalu berhasil diwujudkan. Setelah aku beranjak dewasa barulah aku dapat sedikit demi sedikin merasakan keinginanku yang menjadi nyata dengan segera, tanpa menunggu terlalu lama seperti saat sebelumnya. Tentunya, segalanya dengan usahaku sendiri. Kemudian aku terlalu terbiasa berjuang sendirian. Memaknai bahwa aku sendiri di dunia ini. ...

#SebulanCurcol #Day25: Aquarius Bergolongan Darah B

What makes you special? Terlahir sebagai aquarius yang bergolongan darah B. Ya, aku merasa spesial karna dua hal itu ditakdirkan padaku beserta sifat dasarnya yang benar-benar milikku. Aquarius yang nyentrik beserta ide gilanya, cuek, nggak mau terkekang rutinitas, tapi jujur. Beserta sifat dasar golongan darah B yang cuek, selalu berfikir positif, nggak ribet, dan anti drama. Begitulah aku. Orang yang saking cueknya selalu ketinggalan gosip, padahal orang-orang bergosip di sebelahku. Tapi sifat ini lah yang membuat aku selalu fokus pada apa yang sedang aku kerjakan. Aku juga buka orang yang suka dalam rutinitas, hal itu juga yang akhirnya membuat aku selalu berfikir soal ide-ide lain yang tidak ada dalam rutinitas. Ya, dari sana pula aku terbiasa membuat banyak ide gila yang seringnya berhasil membuat tercengang. Walaupun kadang juga tak sanggup kuwadahi. Tapi dibalik aku yang selengekan, susah diatur, aku adalah orang yang jujur dan tau betul aturan. Walaupun karna kejujurank...

Mengingat yang Dilupakan

Aku pernah di sana menangis meminta diberi seorang yang akan membawakanku segelas air putih hangat beserta sup panas dan sebutir paracetamol saat aku sedang demam. Aku lupa, aku pun pernah dipeluk saat lemas, dirapatkan selimutnya saat aku menggigil, dan dibawakan bubur panas setiap kali ingin makan. Aku pun pernah menangisi keadaan, keadaan dimana aku harus membanting tulang membiayai hidupku sendiri saat belia. Tapi aku lupa aku pernah di sana, tertawa bahagia karna semua keinginanku diwujudkan tanpa aku harus berusaha. Aku pun pernah merasa marah pada semesta karna tak mengabulkan inginku. Aku mengutuknya hingga lelah, bahkan aku mengabaikan rayuannya. Tapi aku melupakannya, semesta yang meringakan jalanku, yang selalu memberi keberuntungan untukku. Semesta yang luar biasa baik mengaminkan banyak keinginanku. Aku melupakannya. Sungguh, aku bukan pemaaf seperti yang banyak orang lihat. Aku pun bukan seorang yang selalu ikhlas menerima segalanya. Sesungguhnya aku hanya se...

#SebulanCurcol #Day15: Terinspirasi Oleh Mas Alitt

Seseorang yang mengispirasi? Harus satu ni? Nggak boleh banyak orang? Agak susah memilih ya, sebenarnya aku sering terinspirasi dari hidup banyak orang, merekalah yang memberi andil untuk caraku berpikir dan bertindak hari ini. Tapi kalau ditanya siapa orang yang sangat mengispirasiku untuk terus berjuang melawan hidup? Mas Alitt jawabnya. Lelaki asal Sragen, yang bahkan belum pernah menjabat tanganku tapi sudah banyak mengubah cara pikirku. 2011. Aku mengenalnya lewat twitter (@shitlicious). Saat itu mas Alitt masih tinggal di Yogyakarta, masih jadi seorang reporter sepertinya, dan masih membranding dirinya sebagai "mahasiswa abadi" yang sering menggantungkan hidup pada indomie. Masih sering ngetwit galau ketimbang bahas sesuatu yang agak serius. Itu mas Alitt 7 tahun lalu, hari ini? Selain sebagai penulis, entrepreneur, namanya bahkan lebih terkenal dikalangan pecinta motor modif. Imagenya jauh berubah dari pertama kali aku mengenalnya. Banyak hal yang me...

#SebulanCurcol #Day14: Untuk K

Karena kau ada untuk diriku Sampai mana pun ku sanggup melangkah Di saat yang sulit ku lihat ke belakang Untuk melihat ke sosok dirimu Karena kau ada untuk diriku Tanpa menyerah ku sanggup bertahan karena bagi diriku engkau selalu ada Di sana dan selalu menjagaku, home town Dukungan itulah, home town ~Karena Kau Ada Untuk Diriku - JKT48~ "Sepenggal lirik dari lagu yang tak sengaja kudengar setelah aku menutup telfonmu hari itu. Hari dimana keluhku lebih berat dari biasanya. Lagu yang menggambarkan kamu, dihidupku" ------------------------------------------------------ Aku pernah sendiri menantang dunia yang luar biasa jahat ini. Tak percaya akan orang lain dan selalu mengutuk semesta sampai muak dan lelah. Aku bahkan berkali-kali hampir menyerah kalah, kemudian dia datang mengetuk pintu dengan keras, memaksa masuk, tinggal, dan tak mau pergi. Sampai hari ini. Dibalik aku yang selalu ceria di mana pun berada, adalah dia yang menyimp...

#SebulanCurcol #Day9: Kebahagiaan Musim Panas

Mimpi, bucket list, target, atau kadang juga disebut cita-cita. Yah, dibalik aku yang terlihat selengekan, guyonan mulu, dan suka receh ini, sebenarnya aku selalu punya list "100 MIMPI" yang aku tulis dengan rinci dan selalu aku perbarui paling tidak tiga tahun sekali. Aku pun tak segan untuk cerewet ke mereka yang lebih muda untuk ayok menulis mimpi. Aku sangat meyakini, keinginan setinggi atau bahkan sereceh apapun, saat dituliskan akan membuat alam bawah sadar kita merecordnya untuk kemudian mengingatkannya terus dan terus lewat cara yang tak kentara. (Aku juga punya cerita soal mimpiku yang sudah terwujud. Klik di sini yaaa ) Apa isi "100 Mimpi"ku? Aku sebutkan beberapa saja ya: Ketemu mbak Dewi Lestari Berani ke Bromo Balik ke Lombok lagi Bisa photoshop Bisa nyupir mobil sendiri Punya rumah sendiri Dan Nikah umur 28 Coba yang terakhir itu aku tolong dibantu ngaminin. Secara sekarang udah umur 27 tapi belom punya calon diajak b...

#SebulanCurcol #Day8: Memutuskan Bersenang-senang

Keputusan gila? Agak susah ya memutuskan mana keputusanku yang memang benar-benar gila, karna hampir semua keputusan yang aku ambil selalu mengundang komentar yang sama: "gila lu mi!" Jadi mari kita kerucutkan saja menjadi "keputusan gila terakhir yang aku ambil" ternyata saat dikerucutkan jadi lebih gampang untukku memilih mau bercerita tentang apa. Keputusannya aku ambil bulan Juni 2017 lalu. Keputusan yang dianggap gegabah oleh banyak orang, bahkan selalu dibahas di rumah dengan embel-embel yang tak enak didengar. Saat itu aku memutuskan resign dari tempat kerjaku, alasannya? Banyak, karna sistem yang kuanggap tidak menyenangkan, karna pekerjaan yang kuanggap kurang cocok denganku, karna alasan mengejar mimpi lain yang jauh lebih menantang, dan satu alasan yang paling besar mengambil porsi. Aku ingin rehat, aku ingin menikmati hidup. Saat 19 tahun aku menjalani kuliah sekaligus menjadi relawan. Aku sangat bekerja keras di dua hal itu, bahka...

#SebulanCurcol #Day7: Iya, Aku Seorang Penakut

"Apa ketakutan terbesarmu Mi?" Seandainya pertanyaan ini ditanyakan enam tahun lalu, aku akan dengan amat jumawa menjawab "apa ya? Aku nggak pernah tuh takut" Tapi saat pertanyaan itu mampir sekarang, aku hanya punya satu jawaban. "Banyak!" Bukan, bukan karna dulu aku pemberani dan sekarang jadi penakut. Dahulu aku pun sama takutnya, tapi diriku yang remaja punya harga diri sangat tinggi yang susah ditawar. Itu menjadikanku manusia super denial. Semakin aku dewasa, makin banyak hal yang aku lewati, semakin aku tersadar banyak hal yang seharusnya tidak lagi ditutupi dan dicarikan tameng. Kemudian aku mulai jujur mengenali diriku dan mulai satu-satu menanggalkan topeng dan tameng yang selama ini jadi pelindungku. Bukan lantas jadi seorang yang blak-blakan, tapi jadi seorang yang jujur pada sekitar dan diri sendiri tentunya. "Lalu apa yang membuatmu takut?" Sama seperti semua orang, aku juga takut gagal, aku takut dianggap remeh orang l...

Be Grateful

Kadang saat sedih yang kita butuhkan tak melulu soal pengalihan kesedihan, belanja, jalan, makanan enak atau apapun. Hal yang paling kita butuhkan sebenarnya hanya seseorang, siapapun yang ada di sisi kita, tak perlu bercerita, cukup peluk dan kata magis "gapapa, kamu bisa ngelewatinnya" Aku tak punya banyak sahabat, bahkan jumlahnya dapat dihitung jari, dan tak semua hal aku ceritakan kepada mereka. Kadang hanya sepenggal, sepotong, atau sebagian. Bukan karna hidupku selalu menyenangkan, tapi memang menceritakan hal sedih sesulit itu bagiku. Sebagian sahabatku bahkan hanya tau aku sedang bersedih tanpa tau mengapa. Mereka hadir untuk menemaniku tertawa, tanpa bertanya. Dan memang kadang hanya itu yang aku butuhkan. Mereka bukan tak peduli, tapi itulah bentuk peduli terbaik bagiku. Mereka tau aku kuat melewatinya. Dibalik tawa, becandaan receh, dan hal konyol, aku pun merasakannya, sedih yang dalam, malam panjang yang dihabiskan dengan tangisan dalam selimut, d...

6 Postingan Per Bulan

Sebenarnya aku punya janji untuk diriku sendiri. Aku mau rajin nulis, sebulan paling nggak harus ada 6 blog post! Nulis apa aja, mau receh, serius, panjang, pendek. Apapun. Untuk belajar nulis aja. Belajar mengkristalkan pikiran. Tapi sayangnya beberapa bulan terakhir aku malah lebih sering ngeluh. "Ini kenapa sih ngga bisa nulis? Padahal idenya udah ada" "Ini konklusinya udah ada lho. Tapi kenapa kalimatnya ngga nyampe-nyampe?" Dan lain sebagainya Yang selalu kejadian setiap aku mulai nulis adalah nulis dua atau tiga kalimat trus berhenti. Seringnya draff tulisanku bahkan udah sampai dua atau tiga paragraf lalu berhenti gitu aja dan nggak nemu mood melanjutkan. Dua hari ini sebenarnya aku lagi sakit jadi lebih banyak pegang handphone dan mikir hal-hal random, serius dan banyak alaynya. Kemudian aku berfikir juga soal ini. Kenapa aku sekarang susah nulis? Dulu di awal aku buat blog, sejujurnya cuma untuk healing menyembuhkan psikologisku yang...

Depresi? (Kamu Tidak Sendiri)

Depresi dan bunuh diri, ini bahasan yang sepertinya selalu muncul ke permukaan. Satu tokoh hari ini, satu lagi beberapa bulan kemudian, dan begitu selalu seolah tersiklus. Jujur aku pun pernah mengalaminya pernah ada di sana dan pernah pula terpikir untuk mengakhiri saja. Sebagai gambaran, aku adalah orang yang cerewet, terkesan ceria dan jarang terlihat sedih. Suka bercerita apapun, becanda, jauh dari kesan pendiam, introvert dan lain sebagainya. Dan aku pernah sedepresi itu, pernah mau bunuh diri juga. "ngga deket sama Tuhan sih" komentar ini lah yang selalu mampir bersamaan pada setiap berita depresi dan bunuh diri.  Walaupun aku bukan orang yang agamis, tapi aku rasa pernyataan ini kurang tepat jadi kongklusi untuk masalah ini. Depresi banyak sekali penyebabnya kadang bahkan tak diketahui pasti penyebabnya tapi nyata adanya. Bisa dialami siapapun bahkan mereka yang agamis pun. Saat kita depresi, kadang bukan jadi saat tersedih kita, tapi yah, alas...

I'm Twenty Six

Hey, sekarang umurku 26, dua puluh enam, umur yang sudah dianggap tua oleh anak sekolahan tapi umur yang masih dianggap terlalu muda untuk disejajarkan dengan meraka yang telah mengaku orang dewasa. Perjalanku menjadi dewasa sudah kujalani lebih dari dua tahun. Dua tahun lalu aku masih ingat aku adalah manusia penuntut yang sering kali memprotes banyak hal yang bagiku tak sesuai. Aku lebih bahagia ketika berandai-andai “enak ya jadi bocah, bisa bahagia dengan cara sederhana, nggak perlu dilabeli kalau buat salah”, ah, pemikiran itu. Banyak sekali yang kulewati dalam dua tahun ini, beberapa hal aku lewati dengan tersenyum, beberapa lainnya kulewati dengan air mata yang jatuh saat malam. Dua tahun ini aku banyak belajar, bagaimana caranya menyikapi penghianatan, bagaimana mencari kebahagiaan disela banyak kata hujatan, bagaimana menjadi seorang anak dan kakak sekaligus, bagaimana aku tau sahabat sebenarnya, bagaimana menerima tanpa keluhan dan penyesalan. Perjalanan yang kujalan...

Surat Untuk Masa Depan

Hay Mi, aku tau suatu saat kamu akan membaca ini lagi. Aku tak tau kau akan seperti apa kelak, aku tak tau semesta akan membawamu berputar di poros yang mana nanti. Menjadi seperti apapun kamu kelak, semoga kau tak pernah melupakan mimpimu yang kamu bangun dengan susah payah hari ini. Iya hari ini aku sedang memperjuangkan masa depanmu. Semoga saat kamu membaca ini kamu sedang tersenyum karna akhirnya mimpimu jadi nyata, tapi saat ternyata mimpimu tak terwujud, tak apa, sungguh tak apa. Bagaimana menjadi dewasa? Apakah menyenangkan? Sudah pergi ke mana saja kamu? Sudahkah kamu menginjakkan kakimu ke Prague? Sudahkah akhirnya kamu menjelajahi Nusa Tenggara Timur? Bagaimana dengan S-2 mu, jadi melanjutkan di jurusan apa? Ah, sepertinya aku terlalu banyak bertanya. Aku tak tau saat ini kamu sedang membaca ini di mana, bisa jadi kamu sedang di eropa, atau mungkin masih di Surabaya. Kalau ternyata kamu masih di Surabaya dan belum ke mana-mana, sungguh tak apa, aku tau kamu past...

Terima Kasih Dewi Lestari

Pagi ini entah mengapa saya iseng membaca twitter teh @deelestari . Penulis favorit saya, dan saya menyadari beberapa hal. Buku pertama yang saya baca adalah Perahu Kertas (tahun 2011) saya masih 20 tahun saat itu. sedang berkasus dengan cinta. Cinta kepada orang yang sedekat hubungan kakak adik tapi tak berani memutuskan untuk melanjutkan atau mengakhiri. Buku ini adalah hal yang tak bisa saya ucapkan maknanya. Saat itu saya stug di satu kondisi. Tak bisa bercerita kepada siapapun. Sangat iseng membuka google dan memasukkan kata kunci “kisah kakak adik ketemu gede” dan dengan lucunya semesta ini mempertemukan saya dengan eBook Perahu Kertas. Tanpa banyak pikir saya mendownloadnya. Membacanya di layar laptop, bahkan sampai empat kali sebelum akhirnya membeli buku cetaknya sebagai penghargaan untuk diri sendiri baru pada 2012. Saya aquarius, pecinta laut, pecinta lelaki pendiam nan misterius. Entah guyonan semesta macam apa ini. Tapi yang pasti setelah membaca buku itu saya ber...

Sepotong Bahagia yang Sederhana

Beberapa hari lalu aku dipaksa oleh sahabatku untuk bersama pergi ke kotanya.  Iya, aku termasuk jutaan manusia sial yang ternyata jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Kami bersahabat dalam satu lingkaran kecil berisi lima orang termasuk aku yang dipersatukan oleh kebutuhan kami menjelajah semesta. Aku benar tak merencanakan kepergianku kali ini, akan tetapi paksaan dari partner perempuanku di geng ini yang akhirnya membuatku beranjak dari kotaku, dengan banyak pertimbangan dan protes pada semesta yang skenarionya selalu tak terduga. Bagaimana tidak, ternyata aku masih belum siap bertemu lagi dengannya. Lelakiku. Tapi maaf, kali ini aku tidak sedang akan menceritakan kisah tentang cinta. Aku akan berkisah tentang hal lain. Di dalam lingkaran kami ini, ada dua orang lain yang memang hobi menganalisis lingkungan dan kehidupan, selain aku. Beberapa kali mereka bahkan rela menyusulku hanya untuk berbicara panjang tentang hidup, tentang sistem negara ini, tentang agam...