Langsung ke konten utama

Mengingat yang Dilupakan

Aku pernah di sana menangis meminta diberi seorang yang akan membawakanku segelas air putih hangat beserta sup panas dan sebutir paracetamol saat aku sedang demam. Aku lupa, aku pun pernah dipeluk saat lemas, dirapatkan selimutnya saat aku menggigil, dan dibawakan bubur panas setiap kali ingin makan.

Aku pun pernah menangisi keadaan, keadaan dimana aku harus membanting tulang membiayai hidupku sendiri saat belia. Tapi aku lupa aku pernah di sana, tertawa bahagia karna semua keinginanku diwujudkan tanpa aku harus berusaha.

Aku pun pernah merasa marah pada semesta karna tak mengabulkan inginku. Aku mengutuknya hingga lelah, bahkan aku mengabaikan rayuannya. Tapi aku melupakannya, semesta yang meringakan jalanku, yang selalu memberi keberuntungan untukku. Semesta yang luar biasa baik mengaminkan banyak keinginanku. Aku melupakannya.

Sungguh, aku bukan pemaaf seperti yang banyak orang lihat. Aku pun bukan seorang yang selalu ikhlas menerima segalanya. Sesungguhnya aku hanya seorang pendendam kecil di semesta yang maha luas ini, yang terlalu banyak menuntut dan terlalu sering marah.

Aku melupakan rasanya beruntung, aku melupakan rasanya bersyukur karna hal-hal yang datang bagai kilatan cahaya, cepat, terang, dan membuat bahagia. Aku memang pelupa ulung. Maka dari itu hari ini kutulis segalanya agar satu hari nanti aku akan ingat, dibalik segala yang berat aku juga pernah tertawa bahagia, bersinar hingga menyilaukan banyak mata, sebelum akhirnya melupa bahwa aku pernah di sana dan kembali mengutuk semesta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Terima Kasih Dewi Lestari

Pagi ini entah mengapa saya iseng membaca twitter teh @deelestari . Penulis favorit saya, dan saya menyadari beberapa hal. Buku pertama yang saya baca adalah Perahu Kertas (tahun 2011) saya masih 20 tahun saat itu. sedang berkasus dengan cinta. Cinta kepada orang yang sedekat hubungan kakak adik tapi tak berani memutuskan untuk melanjutkan atau mengakhiri. Buku ini adalah hal yang tak bisa saya ucapkan maknanya. Saat itu saya stug di satu kondisi. Tak bisa bercerita kepada siapapun. Sangat iseng membuka google dan memasukkan kata kunci “kisah kakak adik ketemu gede” dan dengan lucunya semesta ini mempertemukan saya dengan eBook Perahu Kertas. Tanpa banyak pikir saya mendownloadnya. Membacanya di layar laptop, bahkan sampai empat kali sebelum akhirnya membeli buku cetaknya sebagai penghargaan untuk diri sendiri baru pada 2012. Saya aquarius, pecinta laut, pecinta lelaki pendiam nan misterius. Entah guyonan semesta macam apa ini. Tapi yang pasti setelah membaca buku itu saya ber...

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...