Langsung ke konten utama

I'm Twenty Six





Hey, sekarang umurku 26, dua puluh enam, umur yang sudah dianggap tua oleh anak sekolahan tapi umur yang masih dianggap terlalu muda untuk disejajarkan dengan meraka yang telah mengaku orang dewasa. Perjalanku menjadi dewasa sudah kujalani lebih dari dua tahun. Dua tahun lalu aku masih ingat aku adalah manusia penuntut yang sering kali memprotes banyak hal yang bagiku tak sesuai. Aku lebih bahagia ketika berandai-andai “enak ya jadi bocah, bisa bahagia dengan cara sederhana, nggak perlu dilabeli kalau buat salah”, ah, pemikiran itu. Banyak sekali yang kulewati dalam dua tahun ini, beberapa hal aku lewati dengan tersenyum, beberapa lainnya kulewati dengan air mata yang jatuh saat malam.

Dua tahun ini aku banyak belajar, bagaimana caranya menyikapi penghianatan, bagaimana mencari kebahagiaan disela banyak kata hujatan, bagaimana menjadi seorang anak dan kakak sekaligus, bagaimana aku tau sahabat sebenarnya, bagaimana menerima tanpa keluhan dan penyesalan. Perjalanan yang kujalani dengan air mata, tapi saat ini bisa kutertawakan. Masa itu akhirnya dapat kulewati dengan seru.

Lalu apa aku sudah menjadi dewasa sekarang? Belum, aku sadar masih banyak hal yang harus terus aku pelajari dan sesuaikan, aku sekarang sedang belajar terus dan terus, entah sampai kapan, yang pasti hari ini aku cukup bahagia menjalani hariku dengan banyak pikiran positif. Aku bahkan tak menyangka bahwa menjadi sosok yang akan terus berkata “udah, gakpapa aku aja yang beresin, tenang aja” itu menyenangkan. Bahkan aku pun tak menyangka menjadi orang yang tak lagi reaktif dan mengecilkan masalah yang memang kecil ternyata mengasyikkan.


Ternyata menjadi dewasa tak semenakutan pikiranku saat bocah, ternyata menjadi dewasa menyenangkan juga. *tos sama semesta*


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Terima Kasih Dewi Lestari

Pagi ini entah mengapa saya iseng membaca twitter teh @deelestari . Penulis favorit saya, dan saya menyadari beberapa hal. Buku pertama yang saya baca adalah Perahu Kertas (tahun 2011) saya masih 20 tahun saat itu. sedang berkasus dengan cinta. Cinta kepada orang yang sedekat hubungan kakak adik tapi tak berani memutuskan untuk melanjutkan atau mengakhiri. Buku ini adalah hal yang tak bisa saya ucapkan maknanya. Saat itu saya stug di satu kondisi. Tak bisa bercerita kepada siapapun. Sangat iseng membuka google dan memasukkan kata kunci “kisah kakak adik ketemu gede” dan dengan lucunya semesta ini mempertemukan saya dengan eBook Perahu Kertas. Tanpa banyak pikir saya mendownloadnya. Membacanya di layar laptop, bahkan sampai empat kali sebelum akhirnya membeli buku cetaknya sebagai penghargaan untuk diri sendiri baru pada 2012. Saya aquarius, pecinta laut, pecinta lelaki pendiam nan misterius. Entah guyonan semesta macam apa ini. Tapi yang pasti setelah membaca buku itu saya ber...

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...