Langsung ke konten utama

Menara Mimpi






Bukan perkara kau siapa dan aku siapa, sungguh bukan sekedar itu. Ini tentang kita yang ternyata ditakdirkan untuk mengagumi, berlari, menyemangati, kemudian saling mengerti.

Lewat secangkir kopi aku belajar menghargai pendapat banyak kepala. Lewat caramu berusaha aku mengerti rasanya menahan rasa sakit demi banyak kebahagiaan disekitar. Lewat celotehmu, aku sungguh belajar soal menahan egois.

Kau telah banyak membuatku bermimpi. Membangun semuanya sampai aku tak tau lagi caranya mengukur tinggi menara impianku. kemudian kau menceburkanku dalam air, bukan untuk mencelakaiku, tapi untuk membangunkanku dari mimpi. Didalam riuhnya buih, aku tau kau sedang menyuruhku berlari ke puncak. Mungkin seandainya kau dapat mengatakannya kau akan berujar “hey bangun, saatnya membuat mimpimu nyata” iya, rasanya seperti saat ini, sesak, lelah, dan hamper menyerah, begitu caraku mengejar mimpi. rasanya  persis sama seperti saat kau mennceburkanku dalam air tak tergapai kaki.

Aku sungguh berhutang banyak untuk pijakanku saat ini, untuk banyak uluran tangan menenangkanmu, untuk ribuan kali senyummu saat aku menoleh kebelakang hanya untuk tau bukan saatnya menyerah. Dan untuk satu-satunya peluk yang membuat aku tau bahwa kedamaian itu nyata adanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Sendiri

 Berada di sini hari ini, dalam ruang tertutup yang hanya ada aku sendiri. Hidup ini lucu ya, 28 tahun aku merasa tidak punya privasi, selama ini yang pernah aku tau rasanya hanya sendiri di tengah hiruk pikuk, akhirnya aku merasakan sendirian di satu ruangan yang hanya milikku. 2 tahun lalu, aku harus bergegas pulang untuk bisa sendirian, benar-benar sendiri. Hari ini aku akhirnya dapat mencicipi rasanya, sendirian, berjam-jam, berhari-hari.

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...