Langsung ke konten utama

Postingan

#SebulanCurcol #Day7: Iya, Aku Seorang Penakut

"Apa ketakutan terbesarmu Mi?" Seandainya pertanyaan ini ditanyakan enam tahun lalu, aku akan dengan amat jumawa menjawab "apa ya? Aku nggak pernah tuh takut" Tapi saat pertanyaan itu mampir sekarang, aku hanya punya satu jawaban. "Banyak!" Bukan, bukan karna dulu aku pemberani dan sekarang jadi penakut. Dahulu aku pun sama takutnya, tapi diriku yang remaja punya harga diri sangat tinggi yang susah ditawar. Itu menjadikanku manusia super denial. Semakin aku dewasa, makin banyak hal yang aku lewati, semakin aku tersadar banyak hal yang seharusnya tidak lagi ditutupi dan dicarikan tameng. Kemudian aku mulai jujur mengenali diriku dan mulai satu-satu menanggalkan topeng dan tameng yang selama ini jadi pelindungku. Bukan lantas jadi seorang yang blak-blakan, tapi jadi seorang yang jujur pada sekitar dan diri sendiri tentunya. "Lalu apa yang membuatmu takut?" Sama seperti semua orang, aku juga takut gagal, aku takut dianggap remeh orang l...

#SebulanCurcol #Day6: Hay, Penyampai Rindu

Hay, kamu. Sudah sampai mana pendakianmu hari ini? Apa mimpimu semakin dekat? Apakah semangatmu masih pekat? Atau yang paling sering kau tanyakan padaku dulu, bagaimana harimu? Ah, aku terlalu banyak bertanya. Tapi aku tak ingin menanyakan rindu, karna aku sungguh tak perlu menanyakannya. Kaulah yang pasti menyampaikannya. Hay kamu, pemilik tawa penyemangatku. Untuk kamu, seorang yang menerima saja maunya pemimpi yang terlalu keras terhadap dirinya ini. Terima kasih pernah datang dan mengetuk dengan keras. Hay kamu. Terima kasih untuk rasanya dimengerti dan dipercaya. Terima kasih untuk banyak deringan yang kau angkat dengan suka cita. Dan terima kasih untuk pernah memutuskan melepaskanku tanpa sedikitpun amarah. Tak banyak memang waktu yang kita bagi berlabel kita, tapi aku, kamu sama-sama tau waktu itulah hal yang aku dan kamu pernah sama-sama syukuri adanya. Aku tak pernah mau mengulang waktu.  Tapi kalaupun aku diberi kesempatan itu, aku akan mengulang lim...

#SebulanCurcol #Day5: Supernova Partikel

Mau cerita dikit deh soal #SebulanCurcol. Jadi seperti yang aku dan Dania ceritakan, tantangan nulis ini emang rencana random kami supaya kami belajar nulis lagi dan upaya beresin blog yang sudah lumayan lama nggak keurus karna sibuk menata hati. Ehh bukan hati doang deh yang lain juga, tapi banyakan nata hati sih. (Kok curcol beneran?) Awalnya tantangan ini emang khusus buat kami berdua, eh kok secara random juga kami jadi mempublis tantangan ini dan jadi ada beberapa yang tertarik buat ikut. Terima kasih ya buat yang udah ikut ngeramein dan istiqomah buat nulis per hari. Kami senang! Aku bahkan selalu nunggu cerita-cerita kalian setiap hari. Berasa langganan majalah gitu. Dan gara-gara #SebulanCurcol ini blogku jadi punya pembaca militan. Jumlahnya segelintir doang, tapi kalo nagih postingan buset bener galaknya. Ada juga yang jadi bacain blogku dari zaman bahela dan jadi galau berat gara-gara postingan lama yang mengharu biru. Hay Okta, jangan kebanyakan baca. Hatimu lhooo kak....

#SebulanCurcol #Day4: Rajegwesi

Bagi sebagian orang, pantai adalah tempat mereka menghabiskan hari liburnya. Tapi tidak bagiku. Pantai, laut, samudra bagiku adalah tempat dimana segala hal yang membuatku sesak dihempas. dimana kebahagiaan terasa pekat dan membuatku penuh, dan dimana hati punya pegangannya. Hembusan angin yang membasuh, irama ombak yang teratur & memekakkan telinga, serta aroma samudra yang menenangkan. Seandainya kedamaian dapat digambarkan, begitulah aku menggambarkannya. Pantai bukan hanya sekedar destinasi, pantai adalah tempatku pulang. Tempat dimana "rumah"ku punya bangunannya. Banyak pantai yang sudah kukunjungi, entah berapa jam yang aku habiskan dengan hanya duduk, memandang ke arahnya tanpa melakukan apapun kecuali bernapas dan berdialog dengan semesta. Semua pantai yang pernah kujejak belum pernah lagi kukunjungi, tapi seandainya boleh meminta, aku akan serius merayu semesta untuk menjodohkanku lagi kepadanya. Rajegwesi. Pantai pembuka di deretan pan...

#SebulanCurcol #Day3: 7 April

Tema hari ini adalah patah hati terbaik. Agak aneh sebenarnya. Sejak kapan patah hati pernah baik? Tapi mari memaknai patah hati dengan sesuatu yang berbeda :) Aku pikir tema galau akan mudah untuk kutaklukkan, karna hampir semua post di blog ini isinya kegalauan. Tapi ternyata salah besar. Aku kehabisan ide. Kisah galau mana lagi yang harus aku ceritakan? Sedangkan semua cerita patah hatiku sudah ada di blog ini. Ditambah lagi hari ini kulalui dengan sangat menyenangkan, jauh dari melow dan galau. Sampai pukul tujuh malam tadi, seusai keluar dari bioskop untuk sekali lagi menikmati film #Dilan1990 bersama seorang kakak, dia membahas kisah cintanya dimasa ia masih berseragam putih biru. Kisah cinta yang sederhana tapi indah dikenang. Dan iya, aku punya satu yang semanis itu. Namanya Addin. Lelaki tinggi, kurus, berahang tegas dan jago bahasa arab. Sahabat lelaki pertamaku yang kemudian juga jadi cinta pertamaku. Kelas 1 dan 2, kami berada di kelas yang sama. Aku terkenal c...

#SebulanCurcol #Day2: Absolute Boyfriend

Oke, hembus napas. Seberat itu emang memilih satu judul film yang mau aku tulis hari ini. Dari banyak sekali film yang aku tonton, aku harus milih satu yang banyak mengubah diriku. Agak susah ya. Sebagian adalah film bagus yang bahkan aku tonton berulang kali, sebagian lagi film yang bikin ngakak ampe perut kaku, dan beberapa film yang bikin nangis ampe besokannya dikira baru putus. Ada beberapa yang sangat berkesan dan aku merasa sedang ditampar keras-keras oleh film itu. Salah satunya adalah film ini, serial sih sebenarnya. Zettai Kareshi. Pernah dengar atau nonton nggak? Judul internasionalnya Absolute Boyfriend. Serial Jepang 11 episode + 1 episode spesial. Awalnya aku nggak tau kalo sebenernya Zettai Kareshi ini serial TV, karna yang aku tonton pertama kali adalah episode spesialnya yang berdurasi 1 jam 30 menit. Setelah kelar nonton dan nanya kanan kiri baru tau kalau ternyata Zettai Kareshi ini ternyata serial TV. Zettai Kareshi bercerita tentang seorang profesor p...

#SebulanCurcol #Day1: Merayu Semesta

Pernah nonton atau baca Perahu Kertas? Tokoh utamanya namanya Kugy, seorang aquarius. Di dalam kisahnya Kugy adalah anak buah dewa Neptunus yang secara berkala memberikan "laporan" kehidupannya lewat kertas yang dibentuk perahu lalu dihanyutkan ke aliran air. Ceritaku kali ini berkaitan dengan kebiasaan kugy itu. 😄 Sejak SD mungkin, aku punya kebiasaan menulis diary, kebiasaan ini berjalan sampai awal masuk SMA. Nggak banyak yang tau kebiasaanku ini, semoga Ibuku juga nggak tau ya. Gila aja aku nyembunyiin buku diary udah pake strategi, udah disembunyiin berpindah tempat juga, ampe ibu tau juga kan ya gimana? 😂😂 Isinya? Banyak. Ada ketakutan masa anak-anakku, hal menyenangkan, tulisan soal iri-irian ku sebagai kakak ke adekku, soal orang tuaku yang aku anggap jahat saat itu, dan yang paling banyak menyita halaman buku-buku diaryku adalah kisah percintaan. Semua bukunya masih ada, dan aku sering ketawa-ketawa sendiri baca cerita cintaku sendiri. "B...

#SebulanCurcol

Haeeee! *dadah-dadah* Setelah beberapa minggu lalu aku sempat curhat soal aku yang nggak lagi gampang buat nulis, semalem tiba-tiba Dania (aku manggil dia Puput sih) (Dania itu nama panggung baidewey *digebuk Puput*) secara random. Ehemmm, sekali lagi  📢 SECARA RANDOM 📢 nyeletuk di chat “mbak kita bikin 30 hari nulis blog yuk” dan aku yang frekuensi randomnya sama ama dia menjawab dengan semangat tantangan ini! 👏👏👏👏 Dan ternyata tantangan ini bisa selaras dengan misiku tahun ini. Hohoho Sebenernya aku secara pribadi punya misi menjadikan media sosialku jadi ajang share hal positif, misi ini udah jalan 2 tahun sih, sayangnya tahun-tahun lalu masih banyak bocornya. Sebagai netizen “zaman now” sering banget keceplosan nyinyir atau nulis hal negatif. Kalo aku perhatiin, kenapa kita suka bener tubir di medsos? itu bisa jadi karna kita kekurangan “wadah" untuk menyalurkan pikiran kita yang suka random dan absurd. ((ITU MAH KAMU DOANG MI! 😁)) Dan dari hasil pengamatanku...

Be Grateful

Kadang saat sedih yang kita butuhkan tak melulu soal pengalihan kesedihan, belanja, jalan, makanan enak atau apapun. Hal yang paling kita butuhkan sebenarnya hanya seseorang, siapapun yang ada di sisi kita, tak perlu bercerita, cukup peluk dan kata magis "gapapa, kamu bisa ngelewatinnya" Aku tak punya banyak sahabat, bahkan jumlahnya dapat dihitung jari, dan tak semua hal aku ceritakan kepada mereka. Kadang hanya sepenggal, sepotong, atau sebagian. Bukan karna hidupku selalu menyenangkan, tapi memang menceritakan hal sedih sesulit itu bagiku. Sebagian sahabatku bahkan hanya tau aku sedang bersedih tanpa tau mengapa. Mereka hadir untuk menemaniku tertawa, tanpa bertanya. Dan memang kadang hanya itu yang aku butuhkan. Mereka bukan tak peduli, tapi itulah bentuk peduli terbaik bagiku. Mereka tau aku kuat melewatinya. Dibalik tawa, becandaan receh, dan hal konyol, aku pun merasakannya, sedih yang dalam, malam panjang yang dihabiskan dengan tangisan dalam selimut, d...

Air Putih Hangat

Bolehkah aku berandai-andai? Seandainya semua hal mendekat padaku, apa yang aku bisikkan pada semesta dikabulkan, semua mimpiku terwujud dengan manis, dan bahagia yang disebut banyak orang itu terasa dekat denganku.  Tapi seandainya aku boleh menukarnya dengan sesuatu, aku akan sangat rela menukarnya dengan segelas air hangat, sup panas, sebutir paracetamol, dan seseorang yang mengantarnya selagi merapatkan selimutku, saat aku menggigil demam.