Langsung ke konten utama

Bale Kambang




Di pagi yang basah, matahari bersinar dengan berani di balik karang. Pagi ini aku hanya ingin berbincang tentang apa yang aku takutkan, apa yang aku rasakan, dan apa yang membuatku kembali membangun impian.

Pagi ini aku tak ingin membincangkan rindu, untuk apa? Karna aku telah melihatnya langsung, ungkapan rindu seseorang kepada pucuk pasaknya. Perjalanan ini tentang kami, dua orang yang ingin kembali menata mimpi, memeluk harapan, dan ingin dikuatkan.

Perjalanan ini tentang waktu, waktu yang berhasil diluangkan, waktu yang ingin diulur perlahan dalam bincang, dan waktu yang ingin kami habiskan untuk sedikit rehat, mengeluh, dan berkata lelah.

Perjalanan ini tentang kami yang ingin membuktikan bahwa apapun dan siapapun kamu, hidup ini tak semenakutkan apa yang dilaporkan tiap pagi di layar berita. Perjalanan ini adalah pembuktian bahwa gender hanyalah perkataan dan budaya.

Ini perjalanan dua orang perempuan yang lelah dinilai oleh banyak orang, dua orang yang hanya ingin dinilai dari apa yang sudah dilakukan, bukan hanya karna kami perempuan.



Mushola Pantai Bale Kambang
1 Mei 2017
07.20

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Sendiri

 Berada di sini hari ini, dalam ruang tertutup yang hanya ada aku sendiri. Hidup ini lucu ya, 28 tahun aku merasa tidak punya privasi, selama ini yang pernah aku tau rasanya hanya sendiri di tengah hiruk pikuk, akhirnya aku merasakan sendirian di satu ruangan yang hanya milikku. 2 tahun lalu, aku harus bergegas pulang untuk bisa sendirian, benar-benar sendiri. Hari ini aku akhirnya dapat mencicipi rasanya, sendirian, berjam-jam, berhari-hari.

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...