Langsung ke konten utama

Sehelai Roti Selai




Malam yang beranjak pekat, senja yang perlahan lelap, kamudian angin yang terasa makin padat. Tak ada lagi yang ku tunggu di sini, saatnya aku kembali ke jalanan beraspal, membingkai senja yang tadi terhampar.

Lentera mulai menyala, musik mulai dihentak, pertanda pesta tlah dimulai. Di tempat ini kafe dan bar seperti jamur di padang lembab. Tumbuh subur dan makin lebat. Hari ini aku ingin berjalan saja, menikmati malam yang jauh dari ranum. Memandangi muda-mudi yang sedang menikmati makan malam mereka dengan sekaleng bir di meja dan tawa renyah. Aku tersenyum melihat mereka, hanya ingin tersenyum saja mengingat masa beberapa tahun silam.

Aku terus berjalan, sampai satu mini market menggoda untuk aku masuki. Aku membeli air mineral, selembar roti selai, dan es krim yang ku comot segera sebelum berjalan ke arah kasir.

Malam ini aku ingin menghabiskan makan malamku disini. Di sisi aspal, di bawah atap plang nama jalan.
Di sebrang sana seorang pemuda sibuk mengarahkan mobil yang hendak parkir, di sisi lain seorang ibu sedang berjalan bersisian dengan putrinya, tersenyum lepas seolah malam ini milik mereka. Tak jauh dari tempatku duduk, ada sepasang sahabat sedang bercengkrama. Sibuk saling pukul dan tertawa, mengingatkanku akan kamu.

Sayangnya malam ini aku hanya ditemani sehelai roti selai dan es krim yang sudah tandas lima menit lalu, hanya itu dan tentunya kenanganmu setahun yang lalu. Kenangan kita. Iya, kenangan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Sendiri

 Berada di sini hari ini, dalam ruang tertutup yang hanya ada aku sendiri. Hidup ini lucu ya, 28 tahun aku merasa tidak punya privasi, selama ini yang pernah aku tau rasanya hanya sendiri di tengah hiruk pikuk, akhirnya aku merasakan sendirian di satu ruangan yang hanya milikku. 2 tahun lalu, aku harus bergegas pulang untuk bisa sendirian, benar-benar sendiri. Hari ini aku akhirnya dapat mencicipi rasanya, sendirian, berjam-jam, berhari-hari.

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...