Langsung ke konten utama

Kegalauan 25


Tahun ini umurku seperempat abad, sudah memasuki step "orang-orang udah males nanyain kapan nikah karna slalu dijawab ntar". Tapi sejujurnya aku malah ngga pernah segalau sekarang untuk urusan nikah. *hembus nafas*

Kenapa galau?
Kenapa jadi mendadak mikirin?

Weits, sapa sih yang ngga pernah mikirin soal pernikahan? Apalagi sekarang video prosesi akad dan resepsi pernikahan banyak banget di youtube, dan dikemas cantik & syahdu pula, makin lah hasrat mau nikah ini ada, dan sapa sih orang yang ngga pingin punya "rumah" untuk pulang?
Selain itu, di umur yang segini dan banyak yang sudah dilalui, aku pribadi merasa ada step selanjutnya yang harus aku langkahi karna step skarang sudah habis tantangannya. Haha, memang bagiku hidup ini tantangan. 😀😀
Tapi ternyata ngga mudah buat cari calon yang pas. Apalagi untuk anak yang udah jomblo hampir dua tahun 😔😔(gak ada hubungannya sih). Sebenarnya yang ngebuat susah bukannya karna ngga ada yg deketin, tapi bagiku nikah ini urusan sakral, aku harus berbagi segalanya dengan seseorang, dan yang paling penting kita berbagi pikiran, visi misi dalam hidup, dan mimpi. Iya, aku tipe orang pemikir dan perencana. Jadi hal paling penting menurutku ya menyamakan pemikiran. Tapiiiii, ternyata buat nyari orang yang klik pemikirannya susaaaahhhh!
Belum lagi untuk hal anak. Ini hal terbanyak menyita pikirku. Bagaimana aku akan mendidik anak-anakku, bagaimana aku harus menemani mereka tumbuh dengan bahagia di jaman yang serba digital dan keras ini. Untuk hal ini pun aku harus berhati-hati memilih siapa orang yang akan menjadi partnerku mendidik mereka.

Banyak ya yang kamu pertimbangkan?

Harus dong! Ini bukan soal milih pacar yang bisa putus kapan aja. Ini hal serius, paling ngga untuk aku ya.

Kenapa sih mikir soal ini aja seserius ini? Sedalam ini?

Ini pertanyaan yg sering banget aku dapat setelah cerita soal pertimbangan memilih pasangan. Alasannya karna aku sebagai perempuan pingin merasakan bahagia yang sebenarnya, kebahagiaan sebagai perempuan ya, bukan hanya sebagai istri, menantu atau seorang ibu. Aku mau pernikahanku bukan ajang aku membunuh mimpiku yang masih jauh jalannya. Aku mau pernihanku adalah satu prosesi gunting pita untuk mengejar mimpi bersama seseorang.
Kesannya aku egois ya? Mungkin iya, tapi tenang, aku juga mau suamiku punya mimpi yang tinggi juga, dan aku akan jadi penyemangatnya untuk mengejarnya. Jadi tempatnya menghantar peluk saat lelah memanjat tujuan hidupnya, karna kita menikah bukan untuk saling mengekang, tapi untuk kerja sama yang selamanya. Itulah kenapa impian dan persamaan pemikiran jadi hal yang aku garis bawahi.

Lalu, sekarang sudah dapat kandidat berpartner?

BELUM! 😂😂
Tapi aku yakin, pasti ada laki-laki diluar sana yang punya pemikiran sama.
Yah doakan saja. Aminkan saja. Semoga tak lama.

Maaf ya curhatnya panjang, semoga tulisanku ini bermanfaat buat kalian yg berencana menikah. Semoga bisa mengingatkan lagi soal satu cek list yang mungkin kamu lupakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Sendiri

 Berada di sini hari ini, dalam ruang tertutup yang hanya ada aku sendiri. Hidup ini lucu ya, 28 tahun aku merasa tidak punya privasi, selama ini yang pernah aku tau rasanya hanya sendiri di tengah hiruk pikuk, akhirnya aku merasakan sendirian di satu ruangan yang hanya milikku. 2 tahun lalu, aku harus bergegas pulang untuk bisa sendirian, benar-benar sendiri. Hari ini aku akhirnya dapat mencicipi rasanya, sendirian, berjam-jam, berhari-hari.

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...