Langsung ke konten utama

Membicarakan Senja





“Sudah, mari kita bicarakan soal senja.”
“Senja sudah lama pergi, untuk apa dibicarakan? Mengapa tak kita bicarakan saja soal malam?”
 “tapi aku hanya mau berceloteh tentang senja”

Ternyata kita memang berbeda, kau mencintai malam, sedang aku mencintai senja. Kalau kau mengartikan senja adalah saat diamana matahari dipeluk malam, bagiku senja adalah segalanya.

Bagiku, senja adalah ia yang akan memelukku saat aku terlewat kelelahan menghadapi dunia, yang hanya dengan aroma tubuhnya saja dapat membuatku tersenyum sejenak. Bagiku senja adalah ia yang akan selalu membawakanku secangkir harapan, mengingatkanku untuk bermimpi, dan membangunkanku untuk berlari.

Senjaku adalah ia yang kelak akan menawarkanku untuk berbagi masa depan, yang kelak akan ku lengkapi kekurangannya dan kusyukuri kelebihannya. Senja yang akan aku kecup tangannya dikala pagi dan aku peluk saat senja benar-benar menyapa.

Senjaku adalah kamu yang namanya akan bersanding bersamaku di sebuah akta, yang akan bersama menghadapi apapun yang datang. Ia yang menawarkan kebahagiaan saat harapan kadang tak menyapa. Orang yang akan melengkapiku sekaligus aku lengkapi.

Senja yang sampai saat ini aku belum tau seperti apa sosoknya, yang pasti akan menyapa suatu saat nanti, yang hadirnya kelak akan diamini semesta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Sendiri

 Berada di sini hari ini, dalam ruang tertutup yang hanya ada aku sendiri. Hidup ini lucu ya, 28 tahun aku merasa tidak punya privasi, selama ini yang pernah aku tau rasanya hanya sendiri di tengah hiruk pikuk, akhirnya aku merasakan sendirian di satu ruangan yang hanya milikku. 2 tahun lalu, aku harus bergegas pulang untuk bisa sendirian, benar-benar sendiri. Hari ini aku akhirnya dapat mencicipi rasanya, sendirian, berjam-jam, berhari-hari.

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...