Langsung ke konten utama

Merayakan 2018

Segalanya diawali dengan dendam yang belum tuntas
Jalan yang belum punya akhir, pun belum punya awal, awalnya
Ini tentang harapan yang kemudian ditiupkan
Tentang segala yang dijalani tanpa menggambar harap
Perjalanan yang dimulai dengan langkah yakin walaupun tak berarah

Perjalanan ini tentang takdir
Perjalanan ini tentang mengikhlaskan, memaafkan masa lalu, dan mengampuni diri sendiri
Perjalanan ini tentang kejutan yang datang bagai kilatan lampu
Perjalanan ini tentang harapan usang yang ditukar dengan kado besar
Perjalanan ini juga tentang doa panjang yang dikabulkan Tuhan

Segalanya tentang perpindahan
Perpindahan dari hal nyaman yang mengkerdilkan
Perpindahan pikir yang menyesakakkan
Dan perpindahan yang memang harus dilakukan

Selang waktu ini merupakan perayaan
Selang waktu ini adalah roller coaster Tuhan yang sedang dimainkan
Panjangnya lintasan, kecepatan yang dipacu, dan keseruan yang dihasilkan
Serta jangan melewatkannya, disana ada seseorang yang sedang merayakan




Ditulis dari balkon lantai 17,
Bentuk dari rasa syukur yang tak terkira,
Rasa syukur yang membuncah seiring kembang api yang memisahkan waktu,
Terima kasih 2018,
Terima kasih atas segala hal yang selalu ingin kulempari confetti setiap hadirnya
Selamat datang 2019
Mari kita coret segala ketidakmungkinan
Semoga segala harapan punya perayaannya besok.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...

Pelukan Kebebasan

Pukul 22.00. waktu dimana SMSmu hadir. Selalu di waktu ini. Terkadang sebelumnya, saat kamu terlalu cepat pulang dari ritualmu menghirup kopi. Kadang pula setelahnya, saat kamu terlalu sibuk dengan kawan bicaramu. Kita bisa berbicara berjam-jam di waktu malam, sebelum aku akhirnya sempat pensiun sebagai nocturnal. Saat bersamamu, aku selalu berfikir, ternyata jarak Surabaya – Semarang hanya sejengkal di dalam obrolan kita. Tak pernah lebih jauh. Kamu orang yang menyadarkan aku akan banyak hal yang berkaitan dengan hukum. Orang yang selalu berkata padaku, “Sekarang orang baik sudah langka, aku mau kita jadi salah satunya.” Dan kemudian aku selalu mengingat itu saat aku acuh terhadap orang lain. Saat itu kita memang sama-sama mengejar mimpi. Mimpi masing-masing yang memang tinggal selangkah dalam genggaman. Hubungan pertamaku dengan orang yang tak pernah protes dengan segala kesibukanku, karena kamu pun demikian sibuknya. kamu yang sebegitu dewasanya menanggapi aku yang khawa...