Langsung ke konten utama

Lelaki Kecil




Hari itu aku melihat wajahnya, untuk pertama kali aku tenggelam mencintai senyumnya, kedipan matanya, dan jari mungilnya.

Pagi itu untuk pertama kalinya aku tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Yang aku yakini, kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku.

Hari itu, usianya baru beberapa jam, bayi lelaki mungil yang bahkan masih keriput dan merah. Lelaki kecil yang berhasil memecahkan tangisku. Lelaki kecil yang akhirnya ku peluk dengan sepenuh hati, yang menggenggam telunjukku dengan yakin. Lelaki kecil yang sering ku sebut dalam banyak obrolan, hari itu aku memeluknya.

Tapi pagi itu aku terbangun dengan patah hati yang begitu dalam, lelaki kecil itu hanya sekedar mimpi di tidurku yang kesiangan. Walau peluk itu begitu nyata, walaupun wajahnya tergambar jelas, dan kulitnya teraba nyata, ia hanya mimpi yang belum jadi nyata.

Hari itu, untuk kali pertama aku terbangun, kemudian menangis. Bukan menangis ketakutan, aku menangis untuk sesuatu yang ingin aku miliki tapi belum berhasil aku wujudkan. Bahkan setelah berbulan pagi itu berlalu, aku masih mengingat semuanya. Berharap suatu hari memori ini akan terputar kembali dan aku tak lagi terbangun dan menangis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Sendiri

 Berada di sini hari ini, dalam ruang tertutup yang hanya ada aku sendiri. Hidup ini lucu ya, 28 tahun aku merasa tidak punya privasi, selama ini yang pernah aku tau rasanya hanya sendiri di tengah hiruk pikuk, akhirnya aku merasakan sendirian di satu ruangan yang hanya milikku. 2 tahun lalu, aku harus bergegas pulang untuk bisa sendirian, benar-benar sendiri. Hari ini aku akhirnya dapat mencicipi rasanya, sendirian, berjam-jam, berhari-hari.

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...