Langsung ke konten utama

Jengah Berpesta




Aku ingin bangun seperti biasa, menyesap air putih yang selalu ada di sebelah tempat tidurku kemudian, dan mencari handphone setelahnya. Aku hanya ingin menyesap hari ini dengan biasa saja, bermalas-malasan sejenak di kasur, baru kemudian mandi lalu pergi ke kampus untuk mengisi semangat menulis tugas akhir. Siangnya, setelah aku puas berbincang dengan beberapa orang di kampus yang membuatku asing, aku akan pergi, kemana saja. Bertemu kawan lama, atau hanya menghabiskan hari di dalam mall, apapun.

Aku ingin menjalani hari ini dengan biasa saja, tanpa ucapan, tanpa pendar lilin diatas kue tart, dan tanpa kejutan mengarah perpeloncoan.  Aku hanya ingin menyesap hari ini dengan biasa saja. Sama halnya dengan 5 Mei, 12 Agustus, 24 Juli, dan tanggal lainnya.


Aku tidak merayakan hari ini, aku tak ingin merayakan 10 Februari. Aku hanya ingin mengucap syukur dengan lirih, hanya untukku dan Tuhanku, Aku sudah jengah dengan pesta, aku terlalu lelah untuk hanya sekedar basa-basi, izinkan kali ini saja aku merayakan pergantian umurku hanya dengan diriku sendiri, tak perlu perayaan, bahkan kue tart. Cukup diriku sendiri. Hanya sendiri, menatap apa saja yang telah aku lewati, berharap apa yang kemudian jadi alasanku berjuang. Bukan, bukan aku tak mensyukuri memiliki kalian. Sungguh, aku hanya ingin melewati hari ini dengan biasa saja. Hanya itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Terima Kasih Dewi Lestari

Pagi ini entah mengapa saya iseng membaca twitter teh @deelestari . Penulis favorit saya, dan saya menyadari beberapa hal. Buku pertama yang saya baca adalah Perahu Kertas (tahun 2011) saya masih 20 tahun saat itu. sedang berkasus dengan cinta. Cinta kepada orang yang sedekat hubungan kakak adik tapi tak berani memutuskan untuk melanjutkan atau mengakhiri. Buku ini adalah hal yang tak bisa saya ucapkan maknanya. Saat itu saya stug di satu kondisi. Tak bisa bercerita kepada siapapun. Sangat iseng membuka google dan memasukkan kata kunci “kisah kakak adik ketemu gede” dan dengan lucunya semesta ini mempertemukan saya dengan eBook Perahu Kertas. Tanpa banyak pikir saya mendownloadnya. Membacanya di layar laptop, bahkan sampai empat kali sebelum akhirnya membeli buku cetaknya sebagai penghargaan untuk diri sendiri baru pada 2012. Saya aquarius, pecinta laut, pecinta lelaki pendiam nan misterius. Entah guyonan semesta macam apa ini. Tapi yang pasti setelah membaca buku itu saya ber...

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...