Langsung ke konten utama

1 Desember yang Dirayakan





1 Desember
Saya tidak merayakan hari ini, bahkan saya berkabung untuk hari ini.

Hari dimana banyak orang sedang merayakan kerja keras bertajuk kesetaraan dan kemanusiaan. Bukan karena saya tak lagi menghargai perjuangan, tapi saya lelah berpesta akan keberhasilan kecil, oh, atau boleh saya sebut dengan seolah keberhasilan kecil? Saya  lelah merayakannya. Saya ingin perjuangan panjang ini dimaknai dengan nyata oleh banyak kepala. Saat itulah saya ingin merayakannya.

Hari ini saya sedang berkabung, berkabung atas rasa memanusiakan manusia yang seolah mati, kita seolah tak menganggap beberapa gelintir golongan ini manusia, mereka kita anggap korban, mereka kita anggap sasaran yang akan kita bangkitkan. Mengapa tak pandang saja semuanya manusia yang akan bersama kita untuk berjuang. Bukan sasaran perjuangan.

Hari ini saya pun berkabung karena hati banyak manusia yang membeku, hanya menjalani hidup tanpa menggunakan logika, berfikir income, tak lagi berfikir dengan hati. Lebih bangga saat dapat menabung pundi, bukan lagi berbangga atas pundi kebaikan. Karena level kekayaan menjadi mengkotakkan diri sendiri dan banyak orang. Berani berfikiran bahwa saya tak setara. Apakah kamu manusia?

Tidak, saya tidak menulis ini untuk mengkritik manusia lainnya, saya sedang mengkritik satu manusia bernama “Aku” agar dia menjadi manusia sesungguhnya. Manusia yang memanusiakan manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Sendiri

 Berada di sini hari ini, dalam ruang tertutup yang hanya ada aku sendiri. Hidup ini lucu ya, 28 tahun aku merasa tidak punya privasi, selama ini yang pernah aku tau rasanya hanya sendiri di tengah hiruk pikuk, akhirnya aku merasakan sendirian di satu ruangan yang hanya milikku. 2 tahun lalu, aku harus bergegas pulang untuk bisa sendirian, benar-benar sendiri. Hari ini aku akhirnya dapat mencicipi rasanya, sendirian, berjam-jam, berhari-hari.

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...