Langsung ke konten utama

Rasanya Utuh

Berdiri kemudian kau mendekat. Mendekap kemudian berbisik "biar saja tetap begini, jangan beranjak". Siapa pula yang ingin beranjak dari dekapanmu. Aku memang hanya ingin berdiam saja. Memejamkan mata. Cukup merasakan nafasmu yang turun naik. Hanya menghitung detak jantungmu yang seirama dengan detakan jantungku. Satu dua tiga, hanya merasakan hangatnya cinta yang kau alamatkan untukku.

Waktu berlalu. Kau meregangkan pelukmu untuk kemudian berucap rindu. Aku kembali terdiam meresap ucapanmu dan mencerna rindu. Entah rinduku atau rindumu aku tak pandai membedakan. Aku tertunduk tak kuasa menahan buncahnya bahagia. Menitikan air mata haru.

Kau masih disana hanya dua jengkal dihadapku. Berdiri menungguku yang masih tertunduk menangis. Tanganmu kemudian membuatku terpaksa mendongak. Kau terkejut. Tak menyangka aku kan menangis. Jarimu yang bebas kemudian mengusap air mataku yang masih menetes satu satu. Aku hanya membalasmu dengan senyum "terima kasih pernah mengucap rindu dengan cara yang indah". Kau mendekapku sekali lagi. Bahkan lebih erat dari sebelumnya.

Bagaimana bisa aku berhenti mencintaimu, kalau hanya dengan mencintaimu saja aku dapat mengerti rasanya utuh, tanpa lagi mencari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan 30

 Hay Mi, Bagaimana rasanya tumbuh dewasa? Apakah menyenangkan seperti pikiran belasanmu? Aku tau tak mudah berada di titikmu saat ini. Berbanggalah Mi, hari ini kamu bisa meredam amarahmu dengan cukup baik. Berbahagialah Mi, karna hari ini kamu berhasil melewati banyak hal yang sulit. Bersoraklah Mi, karna kamu berhasil mengalahkan egomu yang maha dahsyat itu. Terima kasih untuk selalu berusaha dan kuat Terima kasih sudah melebarkan punggungmu untuk memeluk segala rasa tak nyaman Terima kasih sudah melapangkan dadamu untuk memaafkan segala hal Terima kasih untuk selalu menemukan kebahagian sederhana di sela hari Terima kasih banyak Mi, terima kasih banyak

Sendiri

 Berada di sini hari ini, dalam ruang tertutup yang hanya ada aku sendiri. Hidup ini lucu ya, 28 tahun aku merasa tidak punya privasi, selama ini yang pernah aku tau rasanya hanya sendiri di tengah hiruk pikuk, akhirnya aku merasakan sendirian di satu ruangan yang hanya milikku. 2 tahun lalu, aku harus bergegas pulang untuk bisa sendirian, benar-benar sendiri. Hari ini aku akhirnya dapat mencicipi rasanya, sendirian, berjam-jam, berhari-hari.

#SebulanCurcol #Day27: Menjadi Pelukis

Seandainya reinkarnasi ada, kamu mau reinkarnasi jadi siapa atau apa? Aku? Seandainya aku percaya dan reinkarnasi benar ada, aku akan tetap bereinkarnasi sebagai diriku, tapi dengan tambahan kemampuan. Yaitu kemampuan melukis. (Lukisan Keenan di film Perahu Kertas) Dulu aku pernah bercita-cita sebagai polisi, dokter, atau wartawan. Tapi sejak SMP, dalam hati kecilku aku sungguh ingin terlahir sebagai pelukis. Aku ingat dulu saat belia aku pernah diajak berkunjung ke Balai Pemuda Surabaya untuk melihat pameran lukisan. Aku masih terlalu kecil untuk memahami lukisan. Tapi aku ingat, hari itu aku menangis di depan salah satu lukisan abstrak. Lukisan yang aku bahkan tak tau apa yang sedang digambarkan, tapi berhasil aku rasakan. Momen itu lah yang sampai saat ini selalu membuatku iri kepada mereka. Pelukis. Karna aku sadar aku tak punya bakat bermain kuas. Tapi aku sungguh ingin bisa menggambarkan isi kepala, bahkan isi hati di atas kanvas dengan torehan warna yang indah. Ingin ...